Kamis, 15 November 2012


PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Beton ialah salah satu bahan yang paling umum dan sering digunakan dalam pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan umum ataupun masyarakat luas, seperti gedung perkantoran, gedung sekolah, rumah ibadah, jembatan, bendungan, gedung-gedung bertingkat dan sebagainya. Bahan beton ini selain memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan jenis bahan lain juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya ialah memiliki berat sendiri yang lebih besar, bentuk yang telah dibuat sulit diubah, pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi dan daya pantul suara yang lebih besar.
Dengan adanya berat sendiri yang besar, dan bentuknya sulit diubah tentunya merupakan suatu hal yang kurang menguntungkan dari segi perencanaan konstruksi beton terutama bagi daerah-daerah yang memiliki daya dukung tanah yang kurang baik seperti didaerah Kalimantan Tengah yang sebagian besar tanahnya yang kurang baik yaitu bergambut dan berawa-rawa. Untuk daerah seperti ini perlu adanya penanganan dan perencanaan suatu pekerjaan beton yang khusus dimana suatu konstruksi akan dibangun, dan hal ini merupakan yang kurang menguntungkan karena makin meningkatnya biaya untuk perencanaan konstruksi tersebut. Untuk daerah dan kondisi tanah seperti ini diperlukan adanya kontruksi yang kuat dan kualitas beton yang baik, salah satu alternatif bahan yang dapat dipakai adalah dengan menggunakan batu pecah olahan mekanis yang dipakai sebagai agregat kasar yang dikombinasikan dengan agregat halus pasir setempat yang diambil dari sungai Sulung Kabupaten Lamandau yaitu sebagai material penyusun perencanaan campuran beton K – 350 (kemampuan suatu beton dapat menahan beban sebesar 35 kg dengan satuan kg/cm2)
Agar hasil akhir yang diperoleh memuaskan, dibutuhkan suatu penelitian atau percobaan yang mendalam mengenai sifat-sifat bahan material penyusun beton yang sangat mempengaruhi kuat tekan beton.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dilakukan suatu penelitian dengan menggunakan metode ACI. Mengenai pengunaan bahan-bahan material yang terdapat pada daerah aliran sungai sulung dan material batu pecah hasil olahan mekanis dari mesin stone crusher yang sumbernya pada Km. 33 Bukit Sintang Kabupaten Lamandau, Propinsi Kalimantan Tengah diharapkan dapat digunakan sebagai bahan material yang berkualitas untuk design mix/campuran beton K-350 yang lebih ekonomis. Dalam hal ini (Perencanaan Campuran Beton K-350 Menggunak Batu Pecah Mekanis Sebagai Agregat Kasar Dengan Metode ACI).
Kinerja yang menjadi perhatian penting untuk perencanaan pencampuran yang menggunakan beton ialah ada 2 cara yaitu kekuatan tekan dan kemudahan pengerjaan, untuk menghasilkan beton dengan kekuatan tinggi, penggunaan air atau faktor air terhadap semen haruslah kecil tetapi dalam pelaksanaan dilapangan sangat sulit. Penelitian ini mencoba melakukan analisis terhadap penggunaan batu pecah hasil pengolahan mekanis pemecah batu (stone crusher), sebagai agregat kasar (coarse agregat), yang di kombinasikan dengan pasir yang diambil dari sungai sulung (fine agregat) yang akan direncanakan sebagai campuran beton K-350, ekonomis serta dapat memenuhi persyaratan spesifikasi yang diharapkan.

    1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang permasalahaan diatas diperoleh beberapa rumusan sebagai berikut :
  1. Mengetahui kinerja campuran beton yang dihasilkan berdasarkan pengujian
kubus dan silinder terhadap komposisi yang digunakan
  1. Mengetahui hasil kuat tekan beton terhadap penggunaan metode ACI (American Concrette Institute)
  2. Mengetahui apakah batu pecah hasil pengolahan mekanis pemecah batu
(stone crusher) memenuhi persyaratan spesifikasi campuran beton K-350

    1. BATASAN MASALAH
Untuk memberikan arahan yang lebih jelas serta untuk memudahkan dalam penyelesaian permasalahan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut:
  1. Penelitian dilaksanakan di laboratorium proyek PT. CONBLOC INFRATECNO yang ada dilokasi proyek ADB paket BV-02-1 Kota Waringin Barat
  2. Spesifikasi yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode ACI (American Concrette Institute)
  3. Semen yang digunakan ialah semen Portland Type I merek Gresik.
  4. Penelitian ini bersifat Uji laboratorium
  5. Material batu pecah (coarse agregat) hasil pengolahan mekanis pemecah batu (stone crusher) Km. 33 Bukit Sintang Kabupaten Lamandau dan pasir kasar (fine aggregate) diambil dari sungai sulung
  6. Kuat tekan yang diukur ialah beton dengan umur 7, 14, 21 dan 28 hari.

    1. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini ialah :
  1. Mengetahui kuat tekan beton terhadap penggunaan metode ACI (American Concrette Institute)
  2. Mengetahui proporsi campuran yang optimal dan ekonomis.
  3. Mengadakan pemeriksaan Sifat fisik agregat kasar mekanis dan agregat halus pasir sungai sulung dalam perencanaan beton

    1. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini ialah:
  1. Memberikan informasi atau masukan kepada perencana ataupun instansi yang berhubungan langsung dengan perencanaan beton mengenai perencanaan campuran beton K-350 dengan menggunakan metode ACI (American Concrette Institute)
  2. Manfaat teoritis, yaitu untuk memperluas wawasan pemikiran dan pengetahuan mahasiswa dalam masalah perencanaan beton.
  3. Manfaat praktis, yaitu mendapatkan gambaran tentang penggunaan batu
pecah hasil pengolahan mekanis pemecah batu (stone crusher) yang
dikombinasikan dengan agregat halus yaitu pasir dari Sungai Sulung
sebagai perncanaan campuran beton K-350.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Beton
Beton ialah merupakan suatu benda padat yang didapatkan dari pencampuran bahan-bahan agregat kasar dan agregat halus, yaitu pasir, batu pecah/kerikil atau bahan-bahan semacam lainnya, kemudian dicampur dengan bahan pengikat semen dan air sebagai bahan pembantu guna proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Nilai kekuatan serta daya tahan (durability) beton tergantung dari banyak faktor, diantaranya ialah nilai banding campuran, mutu bahan susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur dan kondisi perawatannya.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan nilai kuat tariknya dan beton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai kuat tariknya sekitar 9%-15% saja dari kuat tekannya pada penggunaan sebagai komponen struktural bangunan, umumnya beton diperkuat dengan bahan tulang baja sebagai bahan yang dapat bekerjasama dan mampu membantu kelemahannya, terutama pada bagian yang menahan gaya tarik (Djokohusodo, 1.,1999).
Persyaratan umum untuk campuran beton yang digunakan dalam melaksanakan konstruksi beton adalah sebagai berikut:
  1. Persyaratan kekuatan
  2. Persyaratan keawetan
  3. Persyaratan kemudahan pengerjaan
  4. Persyaratan ekonomis
Beton dapat dibedakan berdasarkan berat jenisnya. Ada tiga berat jenis beton yaitu: beton ringan, beton normal dan beton berat.
  1. Beton ringan,beton yang mempunyai berat jenis sampai 1,850 kg/m3
  2. Beton normal, beton yang mempunyai berat jenis antara 1,850-2,500 kg/m3
  3. Beton berat, beton yang mempunyai berat jenis lebih besar dari 2,500 kg/m3 (Departemen Pekerjaan Umum, 1990)
Parameter-parameter yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah:
  1. Kwalitas semen
  2. Proporsi semen terhadap campuran
  3. Kekuatan dan kebersihan agregat
  4. Interaksi atau adhesi antara pasta semen dengan agregat
  5. Pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk beton
  6. Penempatan yang benar, penyelesaian pemadatan beton
  7. Perawatan beton dan kandungan klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton yang diekspos dan 1% bagi beton yang tidak diekspos (nawy,1985:24).


  1. Semen
Semen ialah suatu jenis bahan yang berfungsi sebagai bahan perekat atau pengikat agregat kasar, agregat halus dan air menjadi satu kesatuan. Semen yang biasa digunakan adalah semen portland (ordinary portland cemen), yaitu semen hidrolis yang mengeras apabila dicampur dengan air. Semen portland merupakan bubuk halus yang dibuat dari bahan baku berupa campuran (CaO), silika (SiO2), alumina (AL2O3) yang digiling bersama bahan tambahan yang lainnya (nawy, E, 1998).
Klasifikasi semen menurut ASTM dibagi menjadi 5 (lima) tipe yaitu:
  1. Semen tipe I
Semen portland standar digunakan untuk semua bangunan beton yang tidak akan mengalami perubahan cuaca yang dasyat, untuk penggunaan umum, serta tidak memerlukan persyaratan khusus.
  1. Semen tipe II
Untuk bangunan yang menggunakan pembetonan secara massal seperti dam, panas hidrasi tertahan dalam bangunan untuk jangka waktu lama. Pada saat terjadi pendinginan timbul tegangan-tegangan akibat perubahan panas yang akan menyebabkan retak-retak pada bangunan. Untuk mencengah hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, dibuatlah jenis semen yang mengeluarkan panas hidrasi lebih rendah serta dengan kecepatan penyebaran panas yang rendah pula, semen tipe II ini merupakan semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas hidrasi sedang dan disebut juga “modified portland cemen”. Semen ini menimbulkan 15%-20% lebih sedikit panas dibandingkan dengan semen tipe I.
  1. Semen tipe III
Semen portland tipe III adalah jenis semen yang cepat mengeras dan cocok untuk pengecoran beton pada suhu rendah, butiran –butiran semennya digiling lebih halus dari butiran-butiran tipe I untuk mempercepat proses hidrasi yang diikuti dengan percepatan pengersan serta percepatan pengembangan kekuatan. Semen ini disebut juga “semen dengan kekuatan awal tinggi” digunakan bilamana kekuatan harus dicapai dalam waktu yang singkat. Semen tipe III ini menimbulkan panas sampai 50% lebih banyak pada umur rendah dibandingkan dengan semen tipe I.
  1. Semen tipe IV
Semen portland tipe IV ini menimbulkan panas hidrasi rendah, hal ini menunjukkan bahwa semen tipe demikian panas 40-50% selama sedang terjadi proses hidrasi pada umumnya 1-7 hari dibandingkan dengan panas yang ditimbulkan oleh tipe I. Semen tipe IV ini digunakan untuk kondisi dimana kecepatan dan jumlah panas yang timbul harus minimum misalnya pada bangunan masih seperti bendungan gravitasi yang besar.
  1. Semen tipe V
Semen portland tipe V ini tahan terhadap serangan sulfat digunakan di daerah-daerah pasang surut pada bangunan-bangunan beton di laut juga menimbulkan panas 25-40% lebih kecil dari pada semen tipe I.
Pengerasan pasta semen berlangsung terus menerus, mula-mula secara cepat kemudian lebih lambat untuk jangka waktu yang lama. Pengikat harus terus menerus berlangsung dengan lambat, sebab jika tidak demikian adukan semen akan sukar dikerjakan. Oleh karena itu spesifikasi-spesifikasi untuk semen masyarakat bahwa awal pengikatan dari pasta semen tidak boleh terjadi kurang dari 1 jam setelah kita membubuhkan air pada semen. Pada umumnya waktu pengikatan adukan beton sekarang ini berlangsung lebih lama kira-kira 3-5 jam.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi waktu pengikat awal dari semen yaitu :
  1. Umur semen
Selama semen itu disimpan untuk jangka waktu yang lama semen itu akan menghisap air dan zat asam arang dari udara, sehingga terjadi prahidrasi sebagai akibatnya daya pengikatnya akan menjadi lambat, sedangkan kekuatan tekannya akan berkurang.
    1. Suhu
Kecepatan suatu reaksi kimia tergantung pada suhu dari massa yang bereaksi serta suhu lingkungannya. Reaksi antara semen dan air berlangsung lebih cepat pada suhu yang tinggi (misalnya perawatan dengan uap), akan tetapi untuk proses pengikatan suhu yang paling rapat kira-kira 23oC.
    1. Jumlah air yang dibutuhkan
Agar reaksi kimia antara semen dan air berlangsung dengan memuaskan dibutuhkan air kira-kira 20% air dari berat semen. Dalam adukan beton yang memerlukan lebih banyak air, panas hidrasi akan timbul disebarkan dengan meluas pada bahan-bahan agregat yang lainnya, sehingga suhu pada saat terjadinya pengikatan akan jauh lebih besar dari pada suhu pada waktu terjadi pengikatan hanya antara air dan semen sehingga waktu pengikatan pada adukan beton akan berlangsung lebih lama.
  1. Agregat
Agregat merupakan bahan penyusun beton yang paling berperan dalam menentukan nilai kuat tekan beton. Pada beton biasanya terdapat sekitar 60-70% volume agregat, agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen dan rapat, dimana agregat yang berukuran kecil berfungsi sebagai pengunci celah yang ada diantara agregat yang berukuran besar.
Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan, kerikil, pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan, yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen, porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu pada musim dingin dan agresi kimia, serta ketahanan terhadap penyusustan.
Mengingat bahwa agregat menempati sekitar 70-75 persen dari total volume beton maka kualitas agregat sangat berpengaruh terhadap kualitas beton. Dengan angregat yang baik, beton dapat dikerjakan (workable), kuat, tahan lama (durable) dan ekonomis. Pengaruhnya dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini :

Tabel 2.1 Pengaruh sifat agregat pada sifat beton
Sifat agregat
Sifat beton
Bentuk, tekstur gradasi
Beton cair
Kelecakan, Pengikatan dan pengerasan
Sifat fisik, sifat kimia, mineral
Beton keras
Kekuatan, kekerasan, ketahanan (durability)
Sumber : Paul Nugraha, Antoni. Teknologi Beton halaman 43
2.3.1 Pengolahan Agregat
1) Agregat Kasar (batu pecah)
Pengolahan batu pecah tidak semudah pasir dan kerikil, karena melalui proses pengambilan berupa pengeboran, peledakan (blasting), dan penggalian (exavating). Tujuan utama pengolahan batu pecah yang di jadikan bermacam-macam banyak hal seperti sebagai bahan material untuk pembangunan gedung-gedung perkantoran, pembangunan jembatan dan lain-lain. Proses pengolahan seperti ini sangat mengasilkan bahan ataupun agregat dengan mutu tinggi dan dengan biaya yang rendah.
Pengolahan agregat alam (batu pecah) meliputi penggalian (exavating), pengangkutan (hauling), pencucian, pemecahan (crushing), hingga penentuan ukuran.
Ada 6 (enam jenis) penghancur mekanis (crusher) untuk memproduksi batu pecah, antara lain :
a) Jaw crusher, yaitu terdiri dari satu atau lebih rang (jaw) yang memukul sebuah rahang tetap. Jarak dan panjang gerakan menentukan ukuran butiran batu yang dihasilkan. Sendi (toggle) tunggal untuk batuan yang lebih lunak sedangkan sendi ganda untuk yang lebih keras.
  1. Gyratory crusher, yaitu terdiri dari kepala crusher digoyang oleh eksentrisitas pada shaft miring yang berputar.
  2. Disk crusher, yaitu terdiri dari satu stasioner dan satu berputar berbentuk piring membuka dan menutup.
  3. Hammer atau Impact crusher.
  4. Roll crusher, yaitu memasukkan material diantara roll yang permukaannya bergerigi.
  5. Rod mill, yaitu menggantikan roll crusher untuk mengurangi butir halus, lebih ekonomis dan produk lebih seragam.
Ada bermacam-macam jenis batu-batuan bilamama dipecah yang dapat dimanfaatkan untuk digunakan sebagai agregat beton, misalnya
  1. Batu Kapur ialah batuan hasil sedimentasi yang komposisi utamanya ialah kalsium karbonat. semakin keras dan padat jenis kapir ini, terutama jenis ferro karbonat yang dijumpai didaerah Derbyshire dan Mendips, makin cocok sekali untuk pembuatan beton.
  2. Batu Api yaitu meliputi granit, basalt, dolerit, gabbros dan phorphyres. Granit merupakan batu yang keras, ulet dan padat yang sangat baik untuk beton. Basal merupakan batu api yang menyerupai batu granit, tetapi struktur butirnya lebih halus karena pendinginan yang cepat pada proses pembentukannya. Dolerit yaitu mempunyai struktur butir kristal yang halus yang mengandung felspar banyak dan bahan lain seperti augite, olivine dan granit
  3. Sandstone yaitu keras dan padat, hampir semua sandstone cocok untuk agregat. Yang terbaik ialah yang mempunyai komposisi butriran quartz yang terikat oleh oksida besi yang terhidrasi atau amorphous silica.
  4. Batu Tulis, biasanya agregat ini tidak baik, lunak, lemah, berlapis, dan da
5.      BAB  III
6.      METODE  PENELITIAN                                                                                                                  
7.      3.1        Umum
8.                  Metode penelitian yang digunakan adalah metode uji laboratorium. Bahan-bahan material yang akan digunakan dalam  Perencanaan Campuran Beton K-350 ialah material batu pecah mekanis yaitu hasil olahan stone crusher yang akan dijadikan sebagai agregat kasar untuk campuran beton dan dikombinasikan dengan bahan agregat halus pasir sungai Sulung  Kabupaten Lamandau dan akan diperiksa terlebih dahulu di laboratorium untuk memperoleh sifat-sifat dan karakteristik dari material tersebut. Data yang dihasilkan di laboratorium akan digunakan untuk perencanaan campuran, selanjutnya dibuat benda uji kubus dan silinder untuk dilakukan uji kuat tekan sehingga diketahui karakteristik sifat material dalam campuran.
9.      3.2    Tempat Penelitian
10.              Penelitian dan pengujian terhadap bahan-bahan material akan dilakukan di Laboratorium PT.CONBLOC INFRATECNO pada Proyek ADB BV.02-1. Paket Simpang Runtu - Runtu - Kujan Kabupaten Lamandau Propinsi Kalimantan Tengah.
11.  3.3   Tahapan Penelitian
12.        Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut :
13.  1.   Persiapan bahan dan alat.
14.  a)Semen Portland type I (ordinary portland cement type I) merek gresik.
15.  b)      Agregat halus, yaitu pasir kasar dari sungai sulung
16.  c)      Agregat kasar, yaitu batu pecah hasil olahan mekanis pemecah                 (stone crusher)
17.  d)      Air yang digunakan , ialah sumber mata air dari perbukitan km 33 bukit sintang yang dialirkan melalui pipa, langsung ke Laboratorium dan juga di konsumsi sebagai air minimum
18.  e)      Peralatan yang digunakan, meliputi : Timbangan (besar dan kecil), Saringan (sieve), Sekop kecil, Pan atau talam, Gelas ukur, Botol le chatelier kap. 250 ml, Ember, Oven listrik dengan pengatur suhu (110 ±5)0C, Keranjang kawat, Mesin pengaduk beton (molen), Cetakan benda uji kubus/silinder (masing-masing
19.  BAB  IV
20.  EVALUASI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
21.  4.1            Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah mekanis) dari KM 33 Bukit   Sintang dan pasir Sungai Sulung Kabupaten Lamandau.
22.           Tabel 4.1 Data hasil pemeriksaaan terhadap bahan batu pecah mekanis dan     agregat halus.
Uraian
Hasil Uji
Spesifikasi
Keterangan
Pasir
Daerah gradasi
II
SK SNI T15-1990-03
Berat volume (isi)
750-1,200 kg/m3
a) Kondisi lepas
1,307
b) Kondisi goyangan
1,420
c) Kondisi padat
1,445
Berat jenis (ssd)
2,559
2,500-2,700 kg/m3
SK SNI T15-1990-03
Penyerapan air
1,072
Kadar air
4,59
Modulus kehalusan
2,910
1,5 - 3,8 %
Abrams, 1918
Analisa saringan
3/8"   -  9,50     mm
100
100
No. 4 - 4,75      mm
97,5
95-100
      8 - 2,36      mm
84,5
80-100
     16 - 1,19     mm
69,6
50-85
     30 - 0,60     mm
41,3
25-60
     50 - 0,30     mm
12,2
10-30
   150 - 0,150   mm
4,0
2-10
Semen
Berat jenis
3,15 kg/m3
Berat volume (isi)
1,250
23.   
24.   
25.   
26.   
27.   
28.   
29.   
30.   
31.                Lanjutan tabel 4.1
Batu pecah
Ukuran maksimal
38,1
SK SNI T15-1990-03
Berat volume (isi)
1,20 - 1,75 kg/m3
ASTM C 330
a) Kondisi lepas
1,576
b) Kondisi goyangan
1,707
c) Kondisi padat
1,735
Berat jenis (ssd)
2,601
 -
Penyerapan air
0,621
Kadar air
0,46
Kadar lumpur
2,90
Analisa saringan
1 1/2  -  37,5    mm
100
100
ASTM C 33
   1"   -  25,0    mm
97,3
95-100
  3/4  -  19,1    mm
  1/2 -   12,5    mm
40,2
25-60
  3/8  -   9,50   mm
No 4  -  4,75    mm
4,5
0-10
     8  -   2,36   mm
3,4
0-5
    16 -   1,19   mm
 -
    30 -   0,60   mm
    50 -   0,30   mm
 -
-- 
  100 -   0,150 mm
-
32.                  Sumber  : Penulis 2010
33.                    Dari data hasil pemeriksaan agregat kasar batu pecah mekanis seperti  pada tabel 4.1 dapat diambil kesimpulan, sebagai berikut :
34.  a)            Berat volume agregat kasar batu pecah mekanis sebesar : 1,735 kg/m3 hasil ini  dapat memenuhi spesifikasi sebagai agregat kasar untuk beton struktural yaitu, kurang dari 1,200 – 1,750 kg/m3 (ASTM C-330).
35.  b)            Berat Jenis agregat kasar sebesar : 2,601 kg/m3 dan berat jenis agregat halus sebesar : 2,559 kg/m3 masih memenuhi spesifikasi sebagai agregat kasar dan halus untuk beton struktural yaitu, 2,700 kg/m3 untuk agregat kasar dan 2,500-2,700 kg/m3 untuk agregat halus (SK SNI T15-1990-03).
36.  c)            Hasil pemeriksaan keausan agregat kasar batu pecah mekanis sebesar : 20,23 %. Nilai keausan ini masih memenuhi spesifikasi syarat yang ditentukan harus lebih kecil dari 40 % (ASTM C-33).
37.  d)            Hasil modulus halus butir (MHB) untuk agregat halus sebesar : 2,910 % dapat memenuhi spesifikasi yaitu, 1,500-3,800 kg/m3 dan dapat digunakan sebagai campuran beton dilapangan (SII. 0052).
38.  e)            Berat volume (isi) beton dengan menggunakan batu pecah mekanis untuk cetakan benda uji beton, adalah :
39.  1.   Kubus ukuran                           : 0,15 x 0,15 x 0,15 cm   = 2,442 kg/m3
40.  2.   Silinder ukuran              : Φ 0,15 x 0,30 cm          = 2,442 kg/m3
41.  Maka, berat isi beton rata-rata yang dihasilkan sebesar : 2,442 kg/m3 dapat memenuhi spesifikasi sebesar : 2,200-2,500 kg/m3 (SK SNI T15-1990-03).
42.  Dari data-data pemeriksaan bahan agregat kasar batu pecah mekanis diperoleh suatu kesimpulan agregat kasar batu pecah mekanis tersebut dapat memenuhi standard spesifikasi sebagai agregat kasar dan bisa digunakan untuk campuran beton K-350.
43.   
44.   
45.   
46.   
47.  4.2        PERENCANAAN CAMPURAN BETON K-350
48.                     Campuran beton merupakan perpaduan dari komposit material penyusunnya dimana karakteristik dan sifat bahan akan mempengaruhi hasil rancangannya, perancangan campuran beton yang dimaksudkan untuk mengetahui komposisi atau proporsi bahan-bahan penyusun beton. Perencanaan campuran beton merupakan suatu hal yang komplek jika dilihat dari perbedaan sifat dan karakteristik  bahan penyusunnya. Pada dasarnya perancangan campuran dimaksudkan untuk menghasilkan suatu proporsi campuran bahan yang optimal dengan kekuatan yang maksimum, yang dimaksud dengan  pengertian optimal adalah penggunaan bahan yang minimum dengan tetap mempertimbangkan kriteria dan standar ekonomis.
49.           Diketahui data fisik bahan material penyusun beton sebagai berikut :
50.           Tabel  4.2  Data fisik material
Data fisik material
Batu pecah mekanis
Pasir
Semen
Daerah gradasi
Ukuran maksimum agregat
Modulus kehalusan
Berat Jenis (ssd)
Berat volume (isi)
Penyerapan air
Kadar air
Kadar lumpur
-
38,1
-
2,601  kg/m3
1,735  kg/m3
0,46  %
4,59  %
2,90  %
II
-
2,910 %
2,599  kg/m3
1,455  kg/m3
0,621  %
0,460  %
4,50   %
-
-
-
3,15 kg/m3
1,250 kg/m3
-
-
51.            Sumber : Penulis 2010-02-04
52.  BAB  V
53.  PENUTUP
54.  5.1              Kesimpulan
55.                      Dari penelitian yang telah dilakukan di laboratorium terhadap penggunaan agregat kasar yaitu batu pecah mekanis dengan kuat tekan rencana (f’c) 35 MPa untuk campuran beton K-350 dapat diperoleh kesimpulan  sebagai berikut :
56.  1)      Agregat kasar batu pecah mekanis dapat memenuhi standar spesifikasi sebagai agregat kasar sebagai bahan campuran beton K-350 dan dapat dilihat dari data sebagai berikut dibawah ini :
No
Uraian
Hasil Pengujian
Spesifikasi
 1
 Berat Jenis Agregat
2,601 kg/m3
< 2,700 kg/m3
 2
 Keausan agregat
20,29 %
< 40 %
 3
 Berat Volume Agregat
1,735 kg/m3
1,2-1.75 kg/m3
 4
 Penyerapam Air
0,621 %
-
 5
 Modulus agregat kasar
6,527 %
6,0-7,1 %
57.   
58.  2)      Beton yang dihasilkan dari pemakaian batu pecah mekanis termasuk  kategori beton mutu Normal  karena berat isi beton adalah 2,442 kg/m3
59.  3)      Kuat tekan maksimal gabungan yang dicapai adalah 36,848 Mpa
60.  a)      Tegangan kuat tekan beton karakteristik (f’c) untuk benda uji beton kubus ukuran 15 x 15 x 15 cm ialah 33,522 MPa
61.  b)      Tegangan kuat tekan beton karakteristik (f’c) untuk benda uji beton silinder ukuran diameter 15 cm x 30 cm adalah 33,376 MPa
62.  c)      Kuat tekan beton karakteristik (f’c) yang dihasilkan adalah 34,575 MPa yang artinya tidak dapat memenuhi kuat tekan beton karakteristik yang diharapkan yaitu, 35 MPa disebabkan banyak faktor yaitu keadaan kondisi lingkungan penelitian.
63.  4)      Pola retak yang dominan terjadi pada benda uji beton adalah pola retak jenis Columnar yaitu sekitar 72,5 % dari jumlah contoh benda uji yang diuji
64.  5)      Untuk perencanaan campuran ini dapat dipakai untuk membuat suatu formula mix design campuran beton K-350, tetapi untuk percobaan pengujian pembuatan benda uji beton perlu dilakukan kembali supaya mendapatkan hasil yang optimal, namun tidak bisa dilakukan karena mengingat keterbatasan waktu.
65.   
66.   
67.   
68.   
69.   
70.   
71.   
72.   
73.   
74.  5.2              Saran
75.  1)      Dalam perencanaan suatu campuran beton dengan mutu tinggi perlu diperhatikan, perencanaannya, tingkat kebersihan bahan material benar-benar diperhatikan dengan baik, pemakaian faktor air semen yang optimal, bahan pembentuknya, pemadatannya, dan pengaruh lingkungan. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi mutu dari  beton.
76.  2)      Percobaan pengujian untuk pengambilan contoh benda uji beton perlu dilakukan kembali untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal
77.  3)      Pada pemeriksaan bahan dan pemeriksaan benda uji sebaiknya berpedoman pada prosedur-prosedur yang ditentukan dan diperlukan ketelitian yang baik dalam pemeriksaan bahan, perhitungan dan perencanaan  akan berpengaruh pada hasil akhir yang akan dicapai.